Senin, 23 Januari 2017

Belajar dari Kemunculan Bakpia di Nusantara

Hasil gambar untuk tou luk pia
Bakpia : makanan khas Yogyakarta

Jika anda berkunjung ke Yogyakarta dan kebetulan melewati kawasan Pathuk (bukan Pathuk, Gunungkidul), anda pasti akan dibuat terperangah dengan berderetnya kios penjual bakpia bermacam merek (yang hanya dibedakan dengan nomer dua atau tiga digit dibelakan kata 'Pathuk'). Tentunya hinggap sebuah pertanyaan di dalam benak, mengapa dalam satu area bisa berdiri berpuluh kios penjaja makanan dengan jenis yang sama yaitu bakpia. Berangkat dari pertanyaan tersebut saya mulai tergelitik untuk mencari tahu dan mengkaji sejarah bakpia dari pustaka. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan sejarah makanan khas Yogyakarta yang digemari oleh berbagai lapisan masyarakat ini.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoDa1Y792u62xuiOvEfpOeV8FpWSgJaZBY0eGxGlsTtrlp5BdftUCBFy3lXRo0nV4IIvvHmqkGIz2tsItKCmvQ2l6Fi1gmhg_UhUHOX3J_1WS3XWSSkXXxlUlw4vvS58igMEIzDPHC2GM/s1600/BAKPIA+PATUK+25.jpg
Salah satu kios bakpia di Pathuk
Seperti yang kita tahu, bakpia merupakan makanan khas Yogyakarta yang terbuat dari terigu berisi kumbu (biasanya kacang hijau). Kudapan ini berbentuk bundar dan bercita rasa manis. Namun tahukah anda bahwa bakpia itu sebenarnya produk akulturasi (peleburan) budaya Tionghoa dengan Yogyakarta? Dari pustaka yang saya baca, bakpia berasal dari negeri China yang aslinya bernama Tou Luk Pia. Secara harfiah Tou Luk Pia berarti kue pia kacang hijau.

Perjalanan bakpia menjadi makanan khas Yogyakarta dimulai pada tahun 40an disudut kota Yogyakarta di daerah Tamansari. Seorang tionghoa bernama Kwik Sun Kok yang berasal dari Wonogiri mencoba peruntungan di Jogja dengan menjual bakpia, mengingat kala itu di Yogyakarta masih minim variasi kudapan kecil, kebanyakan adalah kudapan tradisional daerah atau roti diakulturasi dari Belanda.

Kala itu, Nitigurnito menyewakan lahannya di Tamansari kepada Kwik Sun Kok untuk berjualan bakpia sehingga bakpia pertama di Tamansari bernama bakpia Nitigurnito. Setelah beberapa tahun berjalan Kwik Sun Kok pindah ke kampung Suryowijayan. Dari situlah perusahaan bakpia yang ditinggalkan diteruskan oleh Nitigurnito. Setelah diakuisisi oleh Nitigurnito perusahaan bakpia Nitigurnito menjadi semakin besar dan dari titik ini perusahaan bakpia mulai bermunculan di Yogyakarta, dari rumah ke rumah sampai menjadi booming pada tahun 90an karena terbantu oleh lirik dari salah satu lagu band Project Pop yang berjudul "Lumpia vs Bakpia". Seperti inilah liriknya :

bakpia, bakpia, bakpia Pathok
kue Jogja kecil dan mencolok
sakit encok, sakit gondok, atau gigi bengkok
dijamin sembuh besok

Bakpia pada awalnya merupakan makanan khas Cina bernama Tong Cu Pia atau kue bulan. Kue ini berbentuk bundar seperti bakpia namun berukuran besar. Namun karena ukurannya yang besar harganya mahal jadi kurang laku di Yogyakarta kala itu. Alhasil, dibuatlah bakpia yang ukurannya kecil sehingga harganya tidak mahal serta lebih tahan lama. Tidak hanya itu dahulu bakpia dibuat dari minyak babi, namun karena masyarakat Yogyakarta yang mayoritas tidak diperbolehkan mengkonsumsi olahan babi maka sang perajin bakpia mengganti minyak babi dengan minyak kelapa atau sawit.
https://ittacook.files.wordpress.com/2013/08/dscn4369.jpg?w=551
Tong Cu Pia - Kue bulan
Begitulah secuplik sejarah bakpia yang saya baca di buku berjudul "Bakpia si Bulat Manis yang Selalu Dicari" (2016) oleh Murdiati Gardjito dan Katharina A. Melihat kondisi bangsa Indonesia yang saat ini sedang terpecah belah karena serbuan berbagai berita hoax dan fitnah, sudah selayaknya berinstropeksi. Kita bisa belajar dari sejarah munculnya bakpia di Nusantara. Bakpia bisa saja tidak akan pernah ada jika dulu pak Nitigurnito tidak berbaik hati menyewakan lahannya kepada seorang Tionghoa. Begitu pula bakpia mungkin tidak akan bisa mengambil hati masyarakat Nusantara jika sang pengrajin Tionghoa tidak mau mengganti minyak babi pada bakpia. Intinya, cobalah untuk menerima perbedaan dengan mengesampingkan ego diri.

Sebagai penutup post ini, saya akan memberikan satu fakta unik tentang bakpia. Mungkin anda bertanya-tanya mengapa hampir di setiap merek bakpia dibelakangnya ada beberapa digit nomor serta apa sebenarnya nomor tersebut. Usut punya usut, ternyata nomor pada merek tersebut merupakan nomor rumah dimana bakpia diproduksi. Unik ya hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Author